Postingan

Menampilkan postingan dengan label wanita

Haruskah Mengorbankan Karier Demi Keluarga?

Dari judulnya saja, tulisan ini merupakan tulisan mengenai kegalauan saya. Sudah hampir tiga tahun ini, saya galau berat. Pasalnya, calon suami minta saya untuk meninggalkan karier kewartawanan yang sudah saya bangun demi bisa merawat anak kelak kalau kami sudah menikah. Bagi saya meninggalkan karier bukan hal yang mudah. Walaupun saat ini saya berstatus wartawan freelance, saya berharap suatu saat saya bisa bekerja kembali di perusahaan media, syukur-syukur kalau jadi redaktur. Bagaimanapun juga saya sudah membangun karier dengan susah payah, jatuh bangun dari jadi wartawan, resign dan diberhentikan sampai bisa bangkit lagi semua sudah saya lakoni. Kebayang kan perjuangan saya… Itu cerita saya. Sementara, si Nyonyo, calonku itu juga pernah saya minta untuk meninggalkan karier kepengacaraanya. Tapi dia belum jadi pengacara kok. Sambil kerja sebagai staff pengacara, Nyonyo juga kuliah ektensi Hukum. Rencananya, setelah lulus mau ikutan PKPA terus jadi pengacara. Jujur, saya ...

Siapa Yang Lebih Cepat Move On? Pria Atau Wanita

Pasca putus cinta, entah kenapa selalu saja ada artikel yang muncul saat browsing-browsing tentang siapa yang lebih cepat move on. Salah satu artikel dari sumber terkenal menyebutkan ada penelitian yang mengatakan bahwa pria lebih cepat move on karena mereka lebih menggunakan logika. Sementara artikel lain dari sumber terkenal juga mengatakan bahwa wanita lebih cepat move on karena mereka suka curhat. Lalu siapa yang lebih cepat move on? Saya juga gak tahu. Menurut saya, sesuai dengan usia dan pengalaman hidupnya, seseorang akan mengalami perbedaan ketika move on. Contohnya, saya punya mantan pacar yang terus mengejar-ngejar saya sampai sembilan tahun. Iya, sembilan tahun sampai ketika saya pasang status in relationship, dia baru berhenti mengejar. Dan saat itu juga dia baru punya pacar setelqah sembilan tahun menunggu. wakakaka. Sementara, selama sembilan tahun itu saya sudah beberapa kali pacaran. hehehe. Waktu si mantan ngajak balik, malah saya bentak dan saya kata-katai karena ...

Kualitas Perempuan Bukanlah Seperti Label Konstruksi Sosial

Kapan nikah? Anaknya udah berapa? Cuma mau punya anak satu? Kok gak bisa masak? Ngiris bawang bukan begitu caranya.  Para perempuan, pernahkah kamu mendengar pertanyaan dan celotehan seperti di atas? Saya sering. Pertanyaan kapan nikah selalu menghampiri saya, apalagi ketika saya sudah memiliki gandengan. Setiap saya datang ke reuni, kondangan, atau hanya bertemu di jalan mereka selalu mempertanyakan hal itu. Seolah-olah tidak ada pertanyaan basa basi lain selain kapan nikah. Lama menjalin kasih dan tak juga menikah, teman-teman kembali memberi pertanyaan yang sama. Kata mereka, jangan lama-lama  menunggu nikah karena usia saya yang sudah tua dan nati akan sulit punya anak. Ada lagi yang berkomentar nanti jadi maksiat. Saya jadi berpikir, apakah hubungan yang tak kunjung diresmikan selalu berujung maksiat? Berbeda halnya saat saya masih single. Saudara dan teman-teman  berebut memperkenalkan saya dengan para pria. Kata mereka, sudah saatnya saya memikirkan pernikah...

Berapapun Usia Kita, Apapun Status Kita, Kita Berhak Memilih

Berapapun usia kita, apapun status kita, kita berhak memilih. Begitu menurut saya. Seringkali, pilihan hidup saya itu  mendapat tentangan terutama dari orang-orang yang sangat saya cintai. Walaupun harus melalui proses perdebatan dan penerimaan, saya percaya bahwa saya bisa menjalani pilihan hidup saya. Sejak  masih kecil, kita sudah diajarkan untuk memilih. Misalnya, ketika Ibu hendak membelikan baju untuk saya. Saya diajak serta supaya saya bisa memilih pakaian yang sesuai dengan selera saya. Ibu berpikir, kalau saya yang memilih pasti saya mau mengenakan pakaian itu. Kadang-kadang, selera berpakaian saya berbeda dengan Ibu. Beberapa kali Ibu tidak setuju dengan baju yang pilih. Karena menurut Ibu bagus, Ibu memaksakan pilihannya untuk saya. Mau tidak mau saya menurut. Saya pun terpaksa mengenakan pakaian itu kalau tidak mau terkena omelan Ibu. Itu baru contoh pilihan sederhana. Semakin bertambahnya usia kita, semakin banyak pilihan kita yang bertentangan dengan ban...

Surat Untuk Wanitaku Yang Selalu di Hatiku

Halo wanitaku, Bagaimana kabarmu. Aku percaya kamu pasti baik-baik saja. Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Bahkan, sudah lama aku tak melihatmu secara langsung. Namun, aku bersyukur, Semesta masih mengijinkanku melihatmu melalui foto-foto yang kamu unggah di media sosialmu. Wanitaku, sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu. Rasanya, aku sudah tidak kuat lagi menahan rindu di dadaku. Tapi, mengapa rasanya sulit sekali bertemu denganmu? Aku sadar, banyak kesalahan yang kuperbuat padamu. Tak bisa kupingkiri, kamu pasti kecewa. Wanitaku, tak dapat kuhitung berapa banyak kesalahan yang aku perbuat. Mungkin kamu lebih tahu berapa kesalahanku. Barangkali hal-hal yang tak sengaja kulakukan pun tanpa sengaja sudah melukai hatimu. Ah, benar, aku mungkin manusia yang tak punya hati hingga tega melukaimu. Bahkan, aku akui aku sengaja membuatmu marah melalui perkataan dan sikapku. Tapi, tahukah kamu wanitaku. Kau menyesal melakukan itu semua Aku sadar semua hal yang m...

Surat Untuk Pria Yang Kuharap Kelak Menjadi Pendampingku

Halo, apa kabarmu sayang?   Aku tahu dan aku percaya bahwa kamu baik-baik saja. Setidaknya, hal itulah yang bisa aku tangkap sekalipun kita tidak setiap hari bertemu. Tapi, melalui percakapan kita sehari-hari melalui SMS, BBM, ataupun telepon aku percaya bahwa kamu baik-baik saja. Kadang-kadang, kamu mengeluh padaku bahwa kondisimu kurang fit karena kelelahan. Namun, rasa lelah serta flu dan sakit kepala yang menyerang dirimu sepertinya tak menyurutkan semangatmu untuk terus berkarya. Aku paham kerja keras yang kamu lakoni saat ini bukan hanya untuk kamu, tetapi untuk aku dan untuk masa depan kita kelak. Semua perjuangan yang kamu lakukan saat ini bukan hanya untuk kamu nikmati, tetapi kamu ingin agar akupun turut menikmatinya. Sayang, tahukah kamu. Kadang-kadang aku merasa cemas karena kamu bekerja terlalu berat. Namun aku tak bisa melarangmu karena aku sadar kamu sedang berjuang untuk kita. Setiap hari, kamu selalu bercerita padaku bahwa kamu pulang terlambat karen...